Perayaan tahun baru masehi selalu identik dengan terompet dan kembang api. Banyak orang muslim, nasrani dan berbagai agama / penganut paham lainnya semua merayakannya. Kalender Masehi atau Anno Domini (AD) dalam Bahasa Inggris adalah
sebutan untuk penanggalan atau penomoran tahun yang digunakan
pada kalender Julian dan Gregorian. Era kalender ini didasarkan pada
tahun tradisional yang dihitung sejak kelahiran Yesus dari Nazaret.
Masehi dihitung sejak hari tersebut, sedangkan sebelum itu disebut
Sebelum Masehi atau SM (BC-Before Christ). Perhitungan tanggal dan bulan
pada Kalender Julian disempurnakan pada tahun pada
tahun 1582 menjadi kalender Gregorian. Penanggalan ini kemudian digunakan secara luas di dunia untuk mempermudah komunikasi.
Sebagai seorang muslim pantaskan ikut merayakan?. Rasulullah bersabda:
Dari segi ekonomi peringatan tahun baru pun cenderung banyak mudhorot dari pada manfaat. mungkin kita bisa berkata kembang api perlu, untuk hiburan rakyat. Dan akan banyak orang mengais rezeki dengan berdagang terompet, makanan minuman, camilan dll dari hiruk-pikuk kemeriahannya. Tapi Alangkah lebih baiknya kalau kemeriahan tahun baru meniup terompet dan kembang api di gantikan dengan mengadakan pengajian akbar, malam-malam renungan (muhasabah), bersholawat kepada nabi dan acara apapun yang mampu memberi spirit perubahan yang lebih baik diri kita dan mengagungkan kebesaranNya. Seorang muslim harusnya menangis dalam sendirian sujud. Memohon maaf atas kealpaan hari-hari yang lalu. Yang perlu kita ingat, Kesukacitaan yang berlebihan, kesenangan yang keterlaluan, akan menggelapkan hati.
Sebagai seorang muslim pantaskan ikut merayakan?. Rasulullah bersabda:
إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر
Artinya:
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari itu dengan
yang lebih baik dari keduanya yaitu hari raya Idul Adha dan Idul
Fitri.” (H.R. Abu Dawud).Hadist tersebut diucap Nabi ketika datang ke Madinah beliau mendapati beberapa orang mukmin bersenang–senang
merayakannya dengan berbagai permainan, Nabi berkata: ‘Apa dua hari
ini’, mereka menjawab, ‘Kami biasa bermain-main padanya di masa
jahiliyah’. Jadi janganlah melampaui batas dalam kesukacitakan tahun baru masehi. Karena yang pantas kita sukacitai adalah datang hari raya idul fitri dan idul adha. Alangkah lebih baiknya Tahun baru diisi dengan instropeksi diri (muhasabah). Apa kita sudah berguna bagi orang tua kita, saudara kita, sahabat kita, orang miskin dan anak yatim - piatu diantara kita. Apakah sudah benar ibadah kita secara lahiriyah (syariat) maupun Iktimat kita beribadah (hakekat). Gus Mus berkata, "Memang agak aneh, paling tidak menurut saya, jika tahun baru disambut
dengan kegembiraan. Bukankah tahun baru berarti bertambahnya umur?
Kecuali apabila selama ini umur memang digunakan dengan baik dan
efisien. Apabila tidak, insyaallah kita hanya akan
mengulang-ulang apa yang sudah; atau bahkan lebih buruk dari yang sudah.
Padahal ada dawuh: “Barangsiapa yang hari-harinya sama, dialah orang
yang merugi; barangsiapa yang hari ini-nya lebih buruk dari kemarin-nya,
celakalah orang itu.”.Dari segi ekonomi peringatan tahun baru pun cenderung banyak mudhorot dari pada manfaat. mungkin kita bisa berkata kembang api perlu, untuk hiburan rakyat. Dan akan banyak orang mengais rezeki dengan berdagang terompet, makanan minuman, camilan dll dari hiruk-pikuk kemeriahannya. Tapi Alangkah lebih baiknya kalau kemeriahan tahun baru meniup terompet dan kembang api di gantikan dengan mengadakan pengajian akbar, malam-malam renungan (muhasabah), bersholawat kepada nabi dan acara apapun yang mampu memberi spirit perubahan yang lebih baik diri kita dan mengagungkan kebesaranNya. Seorang muslim harusnya menangis dalam sendirian sujud. Memohon maaf atas kealpaan hari-hari yang lalu. Yang perlu kita ingat, Kesukacitaan yang berlebihan, kesenangan yang keterlaluan, akan menggelapkan hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar